Bukan pabrik kue. Setiap pagi, adonan diolah dalam batch kecil, dibungkus daun pisang, dan habis sebelum sore.
Jajanan pasar tidak jadi enak karena resepnya rahasia. Ia jadi enak karena dikukus pagi itu juga — dan habis sebelum sore.
Kedai Ulfa dijalankan Aulia Sewulan D. dari rumah di Kanigoro, Mojoduwur, Kecamatan Ngetos — di lereng Gunung Wilis, tak jauh dari Candi Ngetos peninggalan Majapahit. Ketan, tepung beras, santan, gula merah, dan daun pisang diolah dalam batch kecil setiap hari.
Yang kami jaga bukan cuma rasa, tapi kepastian: pesan berapa pun, dengan budget berapa pun, kami bantu susun. Nasi bungkus daun pisang untuk pengajian, nasi kotak untuk hajatan, atau sekotak jajanan campur untuk tamu yang mendadak datang.
Dikukus dan digoreng pagi itu juga. Daun pisang bukan sekadar bungkus — aromanya masuk ke adonan.
Kami tidak memaksakan paket. Sebut anggaran, kami susun isi yang paling pas untuk acaramu.
Buka 24 jam. Chat tengah malam pun dibalas, karena acara sering datang mendadak.
Pesan 150 nasi kotak buat pengajian, saya cuma bilang budgetnya. Dua jam kemudian sudah dikirim rincian isinya. Datang tepat waktu, nasinya masih anget.
Nogosarinya beda. Daun pisangnya wangi betul, jadi kelihatan memang baru dikukus, bukan stok kemarin. Klepon-nya juga masih meletus pas digigit.
Chat jam 11 malam masih dibalas. Buat saya yang sering dadakan nyiapin snack rapat pagi, ini yang paling menolong.